OMPalu.com – Sore itu dengan semangat Wawan menata dagangan dimeja kecil depan halaman sebuah Hotel, di Jalan S. Parman Kota Palu. Dia memberikan senyum kepada siapapun yang melintas, dengan teriakan kecil menjajakan buah yang berjejer rapi. Sepintas terlihat juga sebuah Kitab Suci yang diletakan disudut meja dagangannya.

Foto : Wawan dan Buah Mangganya, Oleh : Nakoto Sumon

Saya berinisiatif untuk membeli beberapa buah untuk dibawah pulang, setelah tawar menawar kami sepakati saya mengeluarkan sejumlah uang untuk membayarnya, sambil berkata “sudah ambil saja kembaliannya”

Seketika dia melompat kegirangan sambil mengucap syukur, seperti anak kecil yang mendapat hadiah yang sudah Begitu lama diidamkan. Begitu senang nya dia, sempat saya keheranan melihat bagaimana dia merespon padahal jumlahnya tidak seberapa, bahkan sangat kecil. Sungguh sebuah respon yang memancing saya untuk bertanya…

“Ini mangga ambil nya dimana ?”
“Dibelakang kak” jawabnya sambil tetap tersenyum
Punya sendiri ?”
Bukan, punya orang, saya minta izin panjat untuk saya jual, hasil dari jualan ini saya bagi rata sama dia

Obrolan pendek ini membuat saya tertarik untuk mengenal Wawan lebih dekat, dia seorang pekerja di salah satu hotel. Hotel tempat dia bekerja, mengalami kerusakan, hampir tidak ada pengunjung, praktis Wawan tidak punya penghasilan dalam rentan waktu dekat ini.

Sore itu sebuah pelajaran penting diberikan oleh seorang anak penjajah buah, bahwa kehilangan mata pencaharian, dilanda musibah, gempa, bukan lah akhir dari segalanya

Dia mengajarkan untuk bergerak mengerjakan yang bisa dilakukan untuk melanjutkan hidup, dia menanggalkan gengsi daripada harus melakukan tindak kejahatan yang merugikan orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

Tidak hanya itu. dia mengajarkan rasa syukur atas rezeki yang datang. Saya sering berkunjung ke beberapa posko pengungsian, saya mendapati begitu banyak keluhan, termasuk kehilangan pekerjaan sehingga satu satunya hal yang mereka bisa lakukan adalah menunggu bantuan dari donatur.

Saya tidak menyalahkan hal itu, hanya yang menjadi pertanyaan sampai kapan ? Sekali lagi saya tanya. Sampai kapan ??

Hidup tidak harus dihabiskan untuk menunggu bantuan datang, kita harus bergerak, kita harus mulai berkerja, Wawan memberikan kita contoh, dia melakukan hal kecil untuk tetap hidup, untuk hidup yang besar.

Mungkin kalian bertanya bagaimana mungkin kita bisa bertahan dengan melakukan hal sekecil itu ?

Oh come on.. masihkah kita belum sadar bahwa selama ini kita terlalu Men-Tuhankan ikhtiar dan lupa pada kasih Tuhan yang setiap hari dilimpahkan pada kita. Bencana ini juga memperlihatkan dengan telanjang bagaimana Tuhan menjamin hidup kita.

Yang saya tau sebelumnya, mengeluhkan apa yang terjadi bukanlah karakter orang Palu. Orang palu adalah orang yang terus bergerak, manusia yang kuat dan mudah untuk Bangkit dari keterpurukan.

Penulis : Nakoto Sumon

Celoteh OMPaluSeputar Info

Tinggalkan Komentar Anda :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.